Kamis, 02 Juli 2015

cipta

masih di sini
dengan tarian dan nyanyian yang sama

meski
remah tersisa tak lagi beraroma

mengalir air



yh ngw 2jul15

Senin, 25 Juli 2011

tali langit

seutas tali menjuntai dari langit
belingsat mata dan tangan mencari pangkal
menatap-meraba setiap relung maya-nyata


ternyata
'kau' adalah kenyakinan
tak perlu mewujudkanmu


mn231210

Selasa, 28 September 2010

kuraih ruh-ku

waktu itu
hanya ada dua cahaya saja
mereka saling menyediakan tempat untuk berbagi
pada pelataran berperdu
dan tanah berumput

dua cahaya itu
satu berwarna putih
dan satunya lagi tak berwarna
namun mereka saling menolak
bila salah satunya memanggil dengan sebutan warnanya
mereka masing-masing lebih suka bila dipanggil ‘sayang’

warna itu
adalah tangga perjalanan
sebuah undak menuju stasi berikut
pada cerukan dan gundukan nafas

lagu langit malam
pada sepenggal pujian semesta
menyusupkan rahasia rasa
ketika malam kian menghitam
dan anak-anak angsa bersembunyi di ketiak ibunya

ayat-ayat tak lagi bermakna
paras tak lagi memberi arti
emas permata bukan pembanding
terang tak menyilaukan
gelap tak membutakan
lembut tak melenakan
kasar tak memberi luka

satu warna
satu cahaya
ruh-ku menetes
menghablur 1001 nama


dd, mn 27910

Rabu, 16 Juni 2010

puisi sunyi

puisi sunyi


rasalah,
kata tak hendak menangkup rasa,
mata mati cahaya,
gelisah ombak merangkai ucap,

matahari yang pura-pura pamit,
meninggalkan garis terputus di cakrawala,
sebentar berkedip pada riak telaga,
datangmu serupa angin,
membuka pintu malam

labirin waktu mengendap-endap di balik detak,
segumpal embun menggantungi jemari malam,
sunyiku…

dan cahaya pertama menyapa,
dengan sedikit kerling nakal,
selamat pagi, hiruk-pikuk ......

lalu kereta pun tertambat langkah,
bangku tua pada stasiun senja,
merentang jarak maya-MU,
nama-MU sunyikan imajiku,
wajah-MU matikan mapanku,
sunyi-MU tahkluk-ku

masihkah aku kekasih-MU!!!!!


mdn, 16610

Senin, 26 Oktober 2009

sketsa batas langit

sketsa batas langit


adalah sebuah pelataran maha luas
dengan hamparan hijau permadani segaris
tanpa perdu berduri
pun bunga neka warna
hijau
tempat sekotak kolam kecil berdiam
dengan air selalu penuh
rumah bagi seekor anak katak
yang telah sempurna mensiasati hidup
pada rentang waktu yang tak bisa lagi ia hitung
pergantiannya
ia berdiam
ia bermain
ia tidur
di antara garis sejajar
ketika ia berdiri
ketika ia berbaring
pun ketika ia bersujud

adalah sebuah garis lengkung warna
yang pagi itu menampakkan segala pikatnya
di antara gemerlap titik kabut bermain cahaya surya
lama ia berdiam
satu kakinya tegas menghunjam sisi selatan
sementara kaki yang lain menjauh dalam gradasi memutih
lama ia berdiam
seolah ada yang dia harap lebih dalam diamnya

adalah si anak katak yang memandang garis itu dengan sekenanya
ia tak paham apa terjadi
baginya pagi ini hanya berbeda dari pagi kemarin
dan pagi-pagi sebelumnya
itu saja
hingga hanya ia sendiri yang tahu
ketika tiba-tiba ia berlari ke arah selatan
sekencang-kencangnya ia memacu daya dan hasrat
terus ke selatan
matanya tak sedikit pun lepas dari arah selatan
menjauh
semakin menjauh ia berlari
mesti masih terus ke arah selatan

adalah saat perlahan yang tanpa disadari oleh si anak katak
ketika garis warna melengkung itu berangsur menjauh
meninggalkan si anak katak sendiri
di tengah hamparan permadani hijau
yang baru kali ini diinjak kakinya
yang baru kali ini matanya memandang dengan rasa yang sama
yang baru kali ini hatinya merasakan keterasingan di dunia yang sama
dalam kebingungan si anak katak memutar-mutar pandang ke delapan penjuru
rumahku
arah mana rumahku

adalah sebuah angin yang datang sebelum garis datar hilang
dan segalanya menjadi redup
temaram
karena pijar-pijar langit hanya sedikit yang bertandang
lembut angin itu melintas di ujung wajah si anak katak
anak katak pun meloncat-loncat riang
aku tahu
inilah bekalku yang paling mulia
aku tahu
inilah mukjizatku
dengan senyum masih menghias bibirnya
anak katak itupun berlari pulang
tunggu kolamku
aku akan datang

dd: mn 121009

rembulan paro dua itu bernama sepi

rembulan paro dua itu bernama sepi


usai sudah prosesi merengkuh pekat nafasmu
dan senja kian menggelincir

sepasang mata merah redup
memandang langit sore tanpa gemintang
hanya angin mengulurkan tangan menyambut dekap
lunglai penantian
kata terakhir serupa janji
ikrarkan jiwa pada lantunan baris puisi

rembulan paro dua pun kian meninggi
corona tak penuh melingkar pendar

secangkir kopi dingin
tak selesai sulamkan sebuah nama
pada selembar angan

aku tahu
akan sulit lukiskan wajahmu
pada purnama mendatang
kerna sepi telah membawamu pulang

asap dupa dan setangkai kamboja kuning
masih di sini

dd: mn 260909

rindu warna

rindu warna


rembulan terduduk
di ufuk hanya mengurai rambut emas
yang sebentar lagi akan terbias oleh gemerlap bunga api,
rembulan hanya terduduk
di dermaga ini perahu singgahnya terakhir
meninggalkan selembar catatan
tentang esok yang penuh kunang-kunang

ayam jantan termenung
merah matanya tertahan, dipaksa tengadah lebih tinggi
sebait puisi telah ia ikatkan di kaki dermaga,
ayam jantan hanya terdiam
janjinya diburu
sebelum pagi selesai mandi cahaya emas
ketika garis laut kembali menjauh

dua tiang dermaga
pada jarak ruang dan gerak memandang malam
ketika langit berbicara tentang sublimasi hati

dd: mn, 170909

hujan satu ketika

hujan satu ketika


mungkin tak akan pernah ada lagi
bilah-bilah menghubung ruang diam
pada waktu tak berujung
sebab
aroma tanah telah sirna bersama jasad rapuh
sementara sepasang mata mati cahaya

mungkin hanya nama tersisa
pada retak gading sejarah
dengan jelaga dan pena tumpul
setelah kemarau merenggut pupus tersisa

tak ada lagi asap rokok melukis wajahmu
tak ada lagi secangkir kopi manis mengecap senyummu
tak ada lagi salam di gemerlap embun pagi

hujan ini
hanya cukup untuk membersihkan daki di kaki
sementara tangan dan wajah
masih penuh bercak darahmu
dan sepucuk belati masih erat kugenggam

mn, dd 050909

bahasa

bahasa


mata hanya mengedip
bibir hanya tersenyum
tangan hanya melambai
kaki hanya melangkah
dan
persekutuan pun sepakat
memenuh ruang, gerak, dan waktu
dalam naluri manusiawi

dd: kuta, 270509

ketika langit diturunkan dan bumi diayun-ayunkan

ketika langit diturunkan dan bumi diayun-ayunkan


sesungguhnya
kami adalah golongan orang-orang yang beriman!

cukupkah?

dd : mn 230609