sketsa batas langit adalah sebuah pelataran maha luas dengan hamparan hijau permadani segaris tanpa perdu berduri pun bunga neka warna hijau tempat sekotak kolam kecil berdiam dengan air selalu penuh rumah bagi seekor anak katak yang telah sempurna mensiasati hidup pada rentang waktu yang tak bisa lagi ia hitung pergantiannya ia berdiam ia bermain ia tidur di antara garis sejajar ketika ia berdiri ketika ia berbaring pun ketika ia bersujud adalah sebuah garis lengkung warna yang pagi itu menampakkan segala pikatnya di antara gemerlap titik kabut bermain cahaya surya lama ia berdiam satu kakinya tegas menghunjam sisi selatan sementara kaki yang lain menjauh dalam gradasi memutih lama ia berdiam seolah ada yang dia harap lebih dalam diamnya adalah si anak katak yang memandang garis itu dengan sekenanya ia tak paham apa terjadi baginya pagi ini hanya berbeda dari pagi kemarin dan pagi-pagi sebelumnya itu saja hingga hanya ia sendiri yang tahu ketika tiba-tiba ia berlari ke arah selatan se...
waktu itu hanya ada dua cahaya saja mereka saling menyediakan tempat untuk berbagi pada pelataran berperdu dan tanah berumput dua cahaya itu satu berwarna putih dan satunya lagi tak berwarna namun mereka saling menolak bila salah satunya memanggil dengan sebutan warnanya mereka masing-masing lebih suka bila dipanggil ‘sayang’ warna itu adalah tangga perjalanan sebuah undak menuju stasi berikut pada cerukan dan gundukan nafas lagu langit malam pada sepenggal pujian semesta menyusupkan rahasia rasa ketika malam kian menghitam dan anak-anak angsa bersembunyi di ketiak ibunya ayat-ayat tak lagi bermakna paras tak lagi memberi arti emas permata bukan pembanding terang tak menyilaukan gelap tak membutakan lembut tak melenakan kasar tak memberi luka satu warna satu cahaya ruh-ku menetes menghablur 1001 nama dd, mn 27910
Komentar